DI ANTARA IMAN DAN BUDAYA: MENELUSURI HUKUM NON-MUSLIM MENYEBUT “ALHAMDULILLAH” DAN “INSHAALLAH”
Bayangkan kita kembali ke lorong-lorong berdebu kota Mekah, zaman sebelum syariat Islam disempurnakan sepenuhnya oleh wahyu. Di sana, di tengah kepekatan jahiliyah, kedengaran bait-bait syair yang memuji ketinggian “Allah”. Menariknya, pujian itu bukan dilantunkan oleh seorang Muslim, melainkan oleh seorang penyair tersohor zaman itu iaitu Labid bin Rabi’ah. Dalam satu rangkap syairnya yang masyhur, Labid melafazkan: “Ketahuilah, segala sesuatu selain Allah adalah batil (sia-sia)…”

